
Sekolah menengah kejuruan (SMK) sudah saatnya bermitra dengan industri karena lebih efektif dan bermanfaat dibanding dengan praktik lapangan atau datang langsung ke pabrik atauperusahaan. Hal ini juga yang melatarbelakangi PT Kanzen Indonesia yang memproduksi sepeda motor untuk bermitra dengan SMK.
Menurut Cooperate Government Relation PT Kanzen Taufik Hidayat sejak akhir tahun 2008, pihaknya telah menandatangani kerjasama dengan 13 SMK di Indonesia. SMK tersebut antara lain SMKN 4 Jakarta Utara, SMKN 1 Sukabumi, SMKN 2 Subang, SMKN 6 Bandung, SMKN 1 Semarang, dan beberapa SMK di Malang.
Kami berupaya untuk mengatasi kebutuhan siswa SMK khususnya membantu siswa dalam melakukan praktik yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh industri, ujarnya, Kamis (21/5).
Taufik mengatakan, sudah saatnya pihak industri masuk ke sekolah. Dia menambahkan, bentuk kemitraan yang dilakukan oleh PT Kanzen dengan SMK adalah memberikan pelatihanpelatihan kepada guru-guru SMK. Guru-gurunya kita latih dengan harapan mereka dapat menularkan ilmu yang diperolehnya kepada siswasiswanya, lanjutnya.
Saat ini, sudah ada 45 guru dari 13 SMK mengikuti pelatihan selama dua minggu di pabrik PT Kanzen. Dalam pelatihan tersebut, para guru SMK diberikan pengenalan komponen, alat, proses, dan standar praktik di lapangan. Selanjutnya, mereka membuat rakitan sederhana untuk dibawa ke sekolah masingmasing dan dipraktikkan kepada murid-muridnya.
Meski berupa rakitan yang sederhana, lanjut Taufik, namun produk yang dihasilkan harus memenuhi kualitas yang ditetapkan. Selain itu, PT Kanzen juga melatih para guru SMK ini untuk tepat waktu dalam penyerahan barang. Budaya tepat waktu dalam menyerahkan barang ini merupakan hal yang sangat penting di industri, tegasnya.
Taufik menambahkan, dalam bermitra dengan SMK, PT Kanzen mempunyai empat program yakni program perakitan, bekerja di show room, menjual dan perawatan di bengkel, serta perakitan peralatan otomotif. Menurutnya, selama ini peralatan-peralatan yang ada di SMK hanya dimanfaatkan untuk praktik saja.
Oleh sebab itu, kata Taufik, sudah saatnya SMK membuat suatu barang dengan kualitas yang baik termasuk membuat komponen sepeda motor. Ia menegaskan, sudah waktunya Indonesia membuat komponen motor dalam negeri.
Dengan demikian, ujar Taufik, para lulusan SMK Indonesia bukan lagi sebagai pencari kerja, melainkan mampu menciptakan lapangan kerja baru. Dia mengatakan, selama ini, kelemahan yang terjadi di SMK adalah kurang memperhatikan kualitas produk dan belum membudayanya tepat waktu penyerahan barang.
Sementara itu Direktur Pembina SMK Depdiknas Joko Sutrisno mengatakan, sudah saatnya SMK bermitra dengan industri. Kalau datang langsung ke pabrik atau perusahaan, siswa yang bisa ikut pelatihan terbatas. Sebaliknya, jika pelatih dari perusahaan yang datang langsung ke sekolah, semua siswa bisa ikut, tandasnya.
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.